Kamis, 12 Maret 2009

SELAMAT TINGGAL, KAWAN!

Surat terbuka dari penjara untuk sahabat dan kawan tercinta

Dari: Burhanuddin Abdullah


Assalamualaikum wr. wb., dan salam sejahtera bagi kita semua,Rekan-rekan Para Karyawan/Karyawati Bank Indonesia yang saya cintai,Para Anggota Persatuan Pensiunan Bank Indonesia, dan Seluruh Keluarga Besar Bank Indonesia yang saya banggakan, Minggu ini adalah hari-hari terahir saya bekerja di Bank Indonesia. Tak terasa, memang, tetapi percayalah, kita semua akan mengalami hal yang sama. Mengalami ujung darisebuah perjalanan panjang yang hakekatnya adalah penghampiran kembali pada ketiadaan peran seperti dulu ketika kita kita belum mempunyai pekerjaan. Tidak ada yang istimewa. Hanya, saya pikir, sekaranglah waktunya untuk menyampaikan salam perpisahan. Sambil mengenang noktah dan tonggak peristiwa yang sempat kita torehkan dalam keseharian. Sebagian mungkin nantinya akan menjadi dongeng menarik yang akan kita ceriterakan ulang kepada kawan-kawan yang datang kemudian.

Memang, sebagian besar dari masa kehidupan dewasa kita akan di habiskan di tempat ini, di Bank Indonesia. Saya sendiri lebih dari seperempat abad lamanya; dibesarkan nama,diluaskan pandangan, dilebarkan wawasan, didalamkan pengetahuan, ditumbuhkan keberanian, dimatangkan kedewasaan, dan dikembangkan kepemimpinan oleh lembaga dan seluruh jajarannya. Kompetensi, integritas, tanggungjawab professional, dan keterbukaan menjadi nilai yang dari hari ke hari terus diupayakan pengejawantahannya. Di tempat ini pula, saya diperkenalkan dengan nilai batas-batas keakraban, arti kebersamaan, dan makna pertemanan, persahabatan, serta kekeluargaan.

Saya merasakan bahwa keseluruhan nilai yang menjadi cita-cita dan dasar dari semua usaha kita, terasa lebih mengedepan dalam lima tahun belakangan ini. Dengan kepercayaan dari Negara dan masyarakat yang telah diberikan kepada saya untuk memimpin institusi, saya mendapat amanat dengan tanggungjawab yang berat. Secara bersama-sama, kita telah mencoba untuk bekerja keras merajut kembali kebersamaan, membangun citra, meningkatkan kinerja, dan meraih cita-cita dalam rangka mengabdi kepada bangsa dan Negara.

Sejak awal, memang, keinginan kita sungguh sangat sederhana. Kita hanya ingin agar Bank Indonesia dirasakan keberadaan dan kemanfaatannya oleh masyarakat. Kita ingin menebarkan ketenteraman dalam hati semua anak bangsa melalui upaya pemeliharaan stabilitas harga dan stabilitas sistem keuangan dengan seksama. Dan saya kira, sebagian dari keinginan itu telah kita capai. Berbagai indikator kinerja dalam beberapa tahun terahir ini sudah nyata. Karya ilmiah serta penelitian kita pun telah dijadikan acuan dan rujukan oleh pengguna. Program perbaikan industri keuangan dan internal lembaga terus kita mantapkan dengan terencana. Koordinasi kebijakan dan kerjasama dengan berbagai pihak di dalam maupun di luar negeri, di pusat maupun di daerah, dengan praktisi maupun akademisi, telah berjalan dengan erat dan harmonis. Berbagai kebijakan yang terpadu antar berbagai otoritas pengambil kebijakan telah mengantarkan kita hingga mampu secara bersama-sama memelihara stabilitas perekonomian.

Semua pencapaian tersebut, bagi BI, merupakan modal yang amat berharga dalam pelaksanaan tugas selanjutnya di masa-masa yang akan datang. Dan yang paling penting, menurut saya, semua pencapaian itu dilandasi oleh sebuah semangat pengabdian dan keyakinan bahwa dengan tetap memelihara nilai-nilai strategis, dalam kesegaran atmosfir kebersamaan dan eratnya kekeluargaan, serta etika kerja keras untuk selalu memberikan yang terbaik’ bagi negeri yang kita cintai ini, maka peran BI sebagai pelayan masyarakat akan semakin dirasakan manfaatnya.

Rekan-rekan seluruh jajaran di Bank Indonesia yang saya banggakan, Maafkan saya, karena saya tidak bisa langsung berpamitan sambil bersalaman. Sudah lebih dari sebulan saya terpisahkan dari kegiatan dan dinamika kehidupan yang normal. Catatan kecil ini pun saya tulis ketika ujung himpitan musibah di ahir perjalanan di Bank Indonesia, masih belum kelihatan. Sungguh, pada awalnya, sangat sulit bagi saya untuk menerima kenyataan ini dan memahami secara utuh apa yang kini sedang terjadi. Terlalu menyakitkan sehingga makna ujian ini susah untuk diungkapkan.

Kata-kata bijak Nizami, pujangga masyhur Persia, terus mengiang di telinga saya:

”Tidak ada satupun hal yang kita alami di dalam kehidupan ini yang tanpa makna, bahkan jika makna itu pada saat ini sukar untuk difahami. Siapa yang mampu membaca tulisan yang tersamar yang terpahat pada prasasti takdir?”.

Saya harus mengucapkan kata perpisahan kepada anda semua sambil membawa luka. Luka saya adalah duka bagi keluarga, sahabat dan orang tercinta, dan juga bagi lembaga. Kalau tidak karena dorongan, dukungan, dan do’a dari keluarga, sahabat, orang dekat,serta seluruh keluarga besar Bank Indonesia, sangat susah bagi saya untuk menerimanya dengan kesabaran dan kepasrahan yang masih tersisa. Terima kasih atas segala bantuan dan perhatian Anda. Saya percaya Tuhan Maha Mendengar segala rintihan hati dan do’a rekan-rekan semua. Sang Waktu jua nantinya yang akan menyembuhkannya. Saya hanya berharap kebenaran yang menjunjung tinggi asas keadilan dapat ditegakkan tanpa ditunda-tunda. Karena seperti kata Nelson Mandela: ”justice delayed, justice denied!”.

Saya juga meyakini bahwa semua yang telah kita alami, baik suka maupun duka, hanya akan menjadi perekat cinta dan rasa persaudaraan diantara kita sebagai keluarga besar Bank Indonesia. Kita semua telah cukup dewasa untuk memahami dan menyikapi peristiwa demi peristiwa sebagai bagian inheren dari setting kehidupan sosial-budaya, dan politik sehingga permasalahan hukum seringkali memiliki dimensi jamak dan beragam. Saya kira, kita memang masih memerlukan waktu yang cukup untuk mengendapkan seluruh peristiwa dengan berbagai tautan masalah dan kepentingan sebelum kita mampu melihat persoalan ini dengan kacamata yang lebih jernih.

Ahirnya, kita semua hanya bisa berserah sepenuhnya kepada Yang Segala Maha.

Rekan-rekan keluarga besar Bank Indonesia yang saya cintai,

Ijinkan saya menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas kerjasama, dukungan, dan bantuan untuk sama-sama bekerja keras menjalankan amanah rakyat, demi kemajuan bangsa dan Negara. Dalam prosesnya, sebagai manusia biasa, tentu banyak hal yang tidak sempurna karena kekurangan, kelemahan, dan kesalahan saya dalam bertutur kata maupun bertingkahlaku. Tentu, itu semua tidak diniatkan untuk disengaja. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, perkenankan saya atas nama pribadi dan keluarga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

Akhirul kata, semoga Allah SWT senantiasa membukakan mata dan telinga kita untuk dapat bertindak arif dan bijaksana. Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberikan petunjuk dan hidayah-Nya bagi kita semua.

Sungguh, merupakan kebanggaan dan kehormatan besar bagi saya untuk bisa bekerja dan berkarya bersama Anda. Juga, sebuah kebahagiaan karena saya telah bisa mengenal rekan-rekan sekalian. Untuk memelihara silaturrahim, tolong saya disapa apabila saya lupa, pada saat kita berpapasan di persimpangan jalan kehidupan.

Selamat tinggal, kawan!
Jakarta, 15 Mei 2008

Wassalamualaikum wr. wb.
Burhanuddin Abdullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar