Selasa, 15 Maret 2011

Leverage


Apa yang ada di pikiran kita jika mendengar kata leverage? Untuk orang finance, leverage is a general term for any technique to multiply gains and losses (Wikipedia).  Atau, menurut kamus  Inggris-Indonesia (John M. Echols dan Hassan Shadily), leverage adalah pengungkitan, pengaruh. Dalam menganalisis rasio keuangan perusahaan, untuk menghitung leverage perusahaan, yang umum digunakan adalah menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), yaitu perbandingan antara total kewajiban dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan bagaimana modal sendiri menjamin seluruh utang perusahaan.
Pentingnya leverage dalam meningkatkan karir
Kita mengenal leverage yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat peningkatan karir seseorang. Saat test wawancara dalam rangka masuk sebuah BUMN, saya diberitahu psikolog, bahwa walau seseorang pintar dan berkinerja baik, tanpa adanya dukungan atasan, atau adanya link, maka ibaratnya hanya seperti orang yang berdiri di luar lingkaran, artinya tak pernah mendapat perhatian. Di satu sisi, link dengan atasan yang tidak tepat juga membahayakan, saat atasan tadi berjaya, karir bisa terangkat, namun saat atasan tersebut jatuh atau pindah ke perusahaan lain, maka orang-orang dalam link tersebut juga bisa berjatuhan. Bagi pribadi yang hendak diungkit, juga harus mempunyai kompetensi yang sesuai, bukan karena sekedar dekat dengan atasan, agar karirnya bisa awet, bukan ikut roboh setelah atasan yang mengungkitnya dipindahkan.
Dalam ilmu manajemen kepemimpinan, leverage dikenal sebagai sesuatu yang dapat membantu untuk mengungkit derajat seseorang. Oleh sebab itu tak heran, jika banyak kaum muda yang ingin bekerja pada pemimpin yang hebat, kedudukan tinggi dan cakap bekerja, sekaligus rela berbagi. Hal ini disebabkan, pemimpin seperti ini akan menjadi leverage, yang ikut mengungkit karir seseorang lewat proses pembelajaran bermutu. Inilah pemahaman leverage yang benar, dalam arti peningkatan karir karena memang telah melalui proses dan sesuai dengan kemampuannya.
Dalam 28 tahun karir saya bekerja di sebuah perusahaan, saya mengenal pemimpin yang seperti ini, yang menjadi mentor bagi anak buahnya, dan dapat dilihat bahwa sebagian besar mantan anak buahnya sukses dalam meniti karir selanjutnya. Pemimpin seperti inilah yang sebenarnya kita perlukan, pemimpin yang bersikap melayani anak buah, mau menjadi guru bagi anak buahnya, mengarahkan, membimbing, menjaga agar anak buahnya mampu dan kemudian berani memberikan ruang peningkatan karir bagi anak buahnya. Kita mengenal bahwa “a great leader will create greater leaders”.
Dalam meniti karir, kita tak diharamkan untuk mencari pengungkit  agar dapat mengakselerasi peningkatan karir. Namun yang lebih baik adalah menyiapkan diri sendiri, agar pada saat karir meningkat, maka peningkatan karir tersebut memang sesuai dengan kemampuannya. Jika hanya sekedar adanya pengungkit, jika pengungkit tadi lepas, maka karir seseorang bisa jatuh berantakan. Pemimpin yang baik harus mau berkorban untuk anak buahnya. Harus mampu mengambil keputusan, sekalipun keputusan itu bisa saja salah, namun tetap lebih baik daripada tidak berani mengambil keputusan sama sekali. Setelah mengambil keputusan harus siap menanggung risikonya, yang muncul akibat keputusan yang dibuat. Pemimpin harus berada di barisan terdepan, untuk membendung kemungkinan reaksi di kemudian hari atas keputusan tersebut, dan menjadi bumper bagi bawahannya.
Pemimpin hendaknya juga seorang yang visioner, mampu melihat ke depan, berani memberi kepercayaan dan wewenang pada kaum muda, memberi kesempatan berkembang yang luas bagi anak buahnya. Kita tahu, bahwa kesuksesan masa lalu tak menjadi jaminan bagi keberhasilan masa depan. Banyak perusahaan yang runtuh, dari ada menjadi tidak ada. Oleh karena itu, pemimpin yang baik, akan melatih anak buah untuk menyongsong tantangan yang menanti di masa depan.
Untuk menjamin kelangsungan perusahaan, Corporate Social Responsibility (CSR) hendaknya tidak sebagai program tempelan, namun sebagai prasyarat bagi kelangsungan organisasi bisnis yang bermanfaat bagi lingkungan. Dengan memberikan ruang bagi lingkungan sekitar, maka para stake holders akan ikut menjaga agar perusahaan tetap hidup dan berkembang, karena menguntungkan bagi warga sekitarnya.
Sumber Bacaan:
  1. Ekuslie Goestiandi.Telur mata Sapi. Kontan, Edisi 8-14 November 2010 hal. 25
  2. Ekuslie Gustiandi. Pemimpin Bisnis Indonesia. Kontan, Edisi 17-23 Januari 2011 hal 23



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar