Jumat, 08 Mei 2009

STATEMENT KEBIJAKAN MONETER

Perkembangan kondisi perekonomian global terus mewarnai dinamika yang terjadi pada perekonomian domestik. Perkembangan positif yang terjadi di pasar keuangan global mendorong perbaikan risiko di emerging markets, termasuk Indonesia. Hal ini didorong oleh stabilisasi yang terjadi di sektor perbankan AS dan komitmen negara-negara G-20 yang secara serius terus bekerjasama dalam menangani krisis yang sedang berlangsung. Indikator persepsi risiko, seperti CDS spread Indonesia, yang sempat melebar hingga 985 bps pada saat krisis global melanda, saat ini telah turun menjadi sekitar 403bps.

Di domestik, pelaksanaan Pemilihan Umum legislatif yang berlangsung aman dan meredanya kekhawatiran investor terhadap meningkatnya kebutuhan pembayaran luar negeri sektor swasta semakin memperkuat sentimen positif pada perekonomian Indonesia sehingga mendorong aliran modal masuk ke dalam negeri. Kondisi ini berdampak positif pada penguatan mata uang Rupiah, peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan, dan perbaikan yield Surat Utang Negara. Arus modal masuk juga memperkuat cadangan devisa Indonesia, yang mencapai 56,6 miliar dolar AS atau dapat membiayai kebutuhan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Di sisi lain, membaiknya indikator kinerja keuangan global yang lebih banyak didukung oleh faktor sentimen tersebut belum terefleksikan pada membaiknya perekonomian global. Indikator kinerja perekonomian global masih terus merosot yang di negara-negara maju disertai dengan ketidakpastian akan pulihnya credit crunch. Dalam kondisi yang demikian, tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia diperkirakan masih berlanjut walaupun beberapa harga komoditas ekspor telah mengindikasikan peningkatan. Impor juga mengalami pelemahan seiring dengan melemahnya permintaan dalam negeri. Anjloknya impor bahan baku dan barang modal sejak triwulan I-2009 dikhawatirkan akan terus menekan investasi dalam negeri pada triwulan II-2009. Dalam konteks ini, rencana implementasi stimulus fiskal dalam bentuk infrastruktur dalam triwulan II-2009 diharapkan dapat menahan penurunan investasi. Di sektor konsumsi rumah tangga, walaupun beberapa indikator mengindikasikan perlambatan, pengeluaran rumah tangga terkait dengan Pemilu legislatif serta realisasi kenaikan gaji pegawai negeri di bulan April dapat sedikit menahan perlambatan konsumsi. Berbagai survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia juga mengindikasikan bahwa indeks keyakinan konsumen mengalami perbaikan.

Seiring dengan masih melemahnya perekonomian domestik, kecenderungan deflasi mitra dagang, serta membaiknya ketersediaan bahan makanan, tren penurunan inflasi secara tahunan masih terus berlanjut. Inflasi IHK April, secara bulanan mencatat deflasi sebesar 0,31% (mtm) atau secara tahunan sebesar 7,31% (yoy), jauh menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 7,92%. Penurunan tekanan inflasi tersebut terutama didorong oleh deflasi pada komponen makanan bergejolak (volatile food) sesuai pola musimannya. Ketersediaan pasokan domestik -terutama akibat datangnya musim panen raya- telah mendorong inflasi volatile food bulan April jauh lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu. Tekanan dari faktor non-fundamental lainnya yakni administered prices juga menurun. Sementara itu, inflasi inti, yang lebih mencerminkan faktor fundamental relatif stabil, bahkan pada bulan April mencatat deflasi sebesar -0,06% (mtm).

Di sektor keuangan dan moneter, sejumlah indikator seperti laju pertumbuhan uang beredar dan kredit mengkonfirmasi terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pada April 2009, pertumbuhan M0 masih negatif mengkonfirmasi perlambatan tersebut. Kredit perbankan pada bulan Maret 2009 tumbuh sebesar 24,3% (yoy), melambat dibandingkan dengan bulan Februari yang tumbuh sebesar 27,6% (yoy), terutama disebabkan oleh melemahnya permintaan kredit dari sektor korporasi. Sebaliknya di sektor mikro, kecil dan menengah (MKM), pertumbuhan kredit masih mencatat pertumbuhan yang positif, sejalan dengan relatif bertahannya sektor UMKM. Dari sisi suplai, penurunan kredit disebabkan karena kehati-hatian perbankan dalam penyaluran kredit akibat meningkatnya risiko kredit. Keterbatasan pembiayaan kredit tersebut mendorong sektor korporasi mulai mencari alternatif sumber pendanaan melalui saham dan obligasi yang diperkirakan terus meningkat.

Penurunan BI Rate mulai direspons oleh perbankan. Penurunan BI rate sebesar 200 bps sejak Desember 2008 telah direspons oleh penurunan suku bunga deposito sebesar 126 bps-. Sementara itu, sejak bulan Desember 2008, secara agregat suku bunga kredit modal kerja mengalami penurunan sebesar 16 bps. Masih terbatasnya respons penurunan suku bunga kredit perbankan terutama karena masih tingginya suku bunga deposito dan tingginya premi risiko dalam penentuan suku bunga kredit perbankan.

Hasil stress test yang dilakukan Bank Indonesia mengindikasikan bahwa kondisi perbankan nasional secara umum relatif stabil. Berbagai indikator mendukung kondisi tersebut, antara lain modal perbankan secara nasional dan rasio kecukupan modal menunjukkan tren yang meningkat. Rasio kecukupan modal masih cukup tinggi yakni 17,4 % dengan Non-Performing Loan (NPL) relatif masih terkendali, yaitu NPL Gross sebesar 4,5% dan NPL Net 1,9%. Likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank, makin membaik seiring dengan pengurangan segmentasi dan meningkatnya Dana Pihak Ketiga (DPK).

Ke depan, perekonomian domestik diperkirakan masih akan mengalami perlambatan pada Triwulan II-2009 sesuai dengan proyeksi sebelumnya. Hal ini sejalan dengan perekonomian global yang diperkirakan masih terkontraksi. Di samping itu, kelangsungan perbaikan pasar keuangan global yang terjadi di akhir-akhir ini masih perlu diwaspadai mengingat estimasi kerugian lembaga keuangan global diperkirakan membengkak mencapai 4 triliun dolar AS, jauh lebih tinggi dari perkiraan semula. Kondisi tersebut dapat menyebabkan proses deleveraging yang sedang terjadi akan berlangsung lebih lama. Dengan perkembangan perekonomian global seperti itu, kinerja perekonomian domestik di triwulan II-2009 masih sangat tergantung pada permintaan domestik, khususnya konsumsi dan investasi. Dalam kaitan ini, efektivitas perbankan dalam merespons stimulus moneter dan realisasi stimulus fiskal di sektor infrastruktur yang diperkirakan akan mulai efektif pada triwulan II-2009 sangat krusial. Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia 2009 masih akan berada pada kisaran proyeksi sebelumnya yaitu 3%-4%.

Perkembangan faktor eksternal dan domestik mendukung tren penurunan inflasi ke depan. Dari sisi eksternal, sejalan dengan kecenderungan deflasi di negara-negara mitra dagang, serta masih rendahnya harga-harga komoditas di pasar internasional, tekanan inflasi Indonesia ke depan diperkirakan masih cenderung menurun. Dari sisi domestik, rendahnya tekanan inflasi didukung oleh masih rendahnya tingkat penggunaan kapasitas, kecukupan pasokan barang kebutuhan pokok, dan minimnya tekanan harga dari kelompok barang-barang yang diatur Pemerintah (administered price). Dengan perkembangan tersebut, prakiraan inflasi untuk triwulan II-2009 mencapai 4,3-4,6%, dan pada tahun 2009 akan berada pada kisaran kisaran bawah proyeksi 5%-7%.

Dengan mempertimbangkan berlanjutnya tekanan inflasi dan masih melambatnya perekonomian domestik, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 5 Mei 2009 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps, dari 7,50% menjadi 7,25%. Keputusan tersebut diharapkan dapat mendukung upaya menjaga gairah pada pertumbuhan ekonomi domestik dengan tetap tetap menjaga kestabilan harga serta sistem keuangan dalam jangka menengah.

Ke depan, dengan kecenderungan inflasi yang terus menurun dan perekonomian yang masih melambat, upaya Bank Indonesia untuk stimulus moneter melalui pelonggaran kebijakan moneter masih tetap terbuka. Kebijakan pelonggaran moneter tersebut juga bukan kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan perlu didukung oleh respons di sektor perbankan dan sinergi dari sisi stimulus fiskal Pemerintah. Untuk itu, Bank Indonesia dan Pemerintah terus melakukan koordinasi agar berbagai upaya stimulus terhadap perekonomian domestik dapat berjalan secara efektif.

(sumber : bi.go.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar