Senin, 18 Mei 2009

Thank You...Sorry... Please...










“Thank You!”

Kenapa tidak?
Para ahli komunikasi mengatakan bahwa ada tiga kata ajaib yang mampu membangun
hubungan antar manusia, yaitu :

• terimakasih (thank you),
• maaf (sorry), dan
• tolong (please).

Dan dari ketiga kata itu yang memiliki kekuatan terbesar adalah kata “terimakasih”. Konon, hal paling hakiki yang membedakan kualitas komunitas manusia satu dengan komunitas lainnya adalah kebiasaan penghuninya mengucapkan kata terima kasih. Pada komunitas yang lebih sering mengucapkan terima kasih, angka perkelahian lebih rendah dan usia rata-rata penduduk lebih tinggi, demikian sebaliknya.

Aura orang yang suka mengucapkan terima kasih, menurut orang bijak umumnya sejuk dan menularkan kedamaian bagi orang-orang di dekatnya. Ungkapan rasa terimakasih sebenarnya merupakan ungkapan syukur kita kepada Sang Pencipta atas rahmat yang diberikan.

Orang yang jarang mengungkapkan rasa berterimakasih atau syukur kepada Tuhannya, tentu akan sulit sekali mengungkapkannya kepada orang lain. Orang yang mengungkapan rasa berterimakasih dengan secara tulus diibaratkan seperti membukus kado tetapi kado tersebut tidak diberikan. Kita bisa merasakan ungkapan tulus seseorang melalui tatapan mata, senyuman atau gesture tubuh, kemudian tangan kita dijabat dan disampaikan ucapan terimakasih. Ungkapan rasa terimakasih yang tulus dapat mendorong seseorang menjadi percaya diri.

David Rayback mengatakan bahwa ungkapan terimakasih mampu mengikatkan dan menguatkan hubungan antarmanusia. Sebagai contoh orang tua mengungakapkan terimakasih ketika anak dapat mengerjakan sesuatu, atau bahkan belum mampu menyelesaikan sesuatu. Dengan ucapan terimakasih ini anak akan menghargai orang tuanya dan si anak akan merasa dekat dan percaya dengan orang tuanya.

Terdapat kesamaan akar kata yang berasal dari bahas latin, yaitu antara kata think (berpikir) dan thank (terimakasih). Seseorang hanya mampu berterimakasih dan mengungkapkannya dengan tulus ketika dia berpikir bahwa apa yang diterimanya saat ini adalah atas pertolongan orang lain. Oleh karena itu wajib berterimakasih, tanpa adanya pemikiran bahwa apa yang diterimanya merupakan pemberian orang lain, mustahil dia mengungkapkannya rasa terimakasih dengan tulus. Terlepas dari apa motivasi seseorang memberikan sesuatu atau menolong kita, sudah selayaknya ungkapan terimakasih diungkapkan dengan tulus.

Ucapan terimakasih yang tulus akan muncul pada saat kita telah berbuat baik kepada orang lain dengan tulus juga. Jangan hiraukan orang lain atau lingkungan kita yang memandang sinis kepada kita pada saat kita melakukan perbuatan baik. Jangan terlalu mengharapkan ucapan terimakasih dari orang lain, tetapi berupayalah terus menerus memberikan ucapan terimakasih yang proposional kepada setiap kebaikan orang lain.

Ada sebuah cerita bagaimana sebuah dirigen telah selesai memimpin salah satu orkestra, maka serentak seluruh penonton berdiri dan memberikan applaus yang meriah. Sudah selayaknya sang dirigen menunduk untuk merespons tepuk tangan penonton. Akan tetapi tidak demikian dengan dirigen yang satu ini. Ketika penonton memberikan applaus, dia tidak tersenyum. Tepuk tangan masih menggema diruang konser tersebut, penonton masih heran karena dirigen ini tidak menunduk? Beberapa penonton mulai gerah dan berkomentar miring. “Sombong banget nih dirigen ini, nggak mau nunduk, senyum pun ogah!” sahut penonton.

“Baru kali aku liat dirigen yang belagu seperti ini!” sahut penonton lainnya. Setelah sekian lama tidak menunduk, tiba-tiba diatas balkon ada seorang tua berdiri, mengangguk sambil tersenyum, dan bertepuk tangan ke arah dirigen. Barulah dirigen tersebut mengangguk dan tersenyum memandang kearah orang tua tersebut dan kepada seluruh penonton. Orang tua itu ternyata adalah pelatihnya.

Mari kita biasakan mulai hari ini, jika kita mendapatkan pertolongan sekecil apapun dari seseorang untuk menyampaikan rasa terimakasih yang tulus dan lihatlah dampaknya yang sangat luar biasa.

(Dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar