Selasa, 08 Maret 2011

Metodologi Ilmiah

Materi bagian pertama pada  mata kuliah Metodologi Penelitiasn dan Penulisan Hukum dalam bimbingan Dr. Rantauan Janim, SH., MH. yang menjelaskan tentang azas-azas metodologi ilmiah, sistem dan metode, dan fakta dan teori.
  1. AZAS-AZAS METODOLOGI ILMIAH:
    1. Pendahuluan
      1. Manusia sebagai Animal Rasional dibekali atau mampunyai cirri khas, yaitu hasrat ingin tahu dan selalu ingin tahu dalam hal ini dimulai sejak manusia masih kanak-kanak, dengan berbagai macam pertanyaan.
      2. Selanjutnya manusia bersaha mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut.
      3. Dari dorongan rasa ingin tahu tadi, manusia berusaha mendapatkan pengetahuan mengenai hal yang dipertanyakan.
      4. Salah satu sebab yang paling dasar dari keiingintahuan manusaian adalah:
1)     Aspek statis: fakta-fakta/kenyataan-kenyataan
2)     Aspek dinamis: jauh di balik fakta-fakta/kenyataan yang diamati tersebut; yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dapat diperkirakan melalui pertanyaan-pertanyaaan tersebut.
a)     Misalnya: fakta-fakta/kenyataan-kenyataan yang diperolah melalui pengamatan/ indera > knowledge/pengetahuan > pengetahuan, belum berupa “sikap pengamatan ilmiah (ilmu)”.
    1. Ilmu (science) > menuntut beberapan ketentuan lain yaitu, misalnya: suatu himpunan fakta/nyata, pada akhirnya dapat disusun berdasarkan atas berbagai azas pengaturan yang memungkinkan kita menghimpun dan menemukan hubungan-hubungan yang ada antara realitas yang kita amati.
    2. Pengetahuan: berkembang sejalan dengan perkembangan kebudayaan manusia, dan berkembanga dalam kerangkan keingintahuan manusaia untuk menemukan kebenaran.
    3. Namun harus diakui: bahwa upaya pencarian kebenaran dalam kerangka kehidupan manusia tidak melalui ilmu pengetahuan tetapi dengan cara lain yang secara factual tidak dibantah kebenarannya, yaitu: wahyu dan intuisi yang telah terbukti kebenarannya dalam pengalaman hidup manusia di dunia.
  1. Metode Berpikir Ilmiah
    1. Dua sumber berpikir yang mendapatkan kelancaran itu didasarkan pada “rasio” > metode rasionalisasi.
    2. Metode berpikir > bahwa kebenaran itu didasarkan pada pengalaman individu mazhab empirisme.
  2. Tingkat pernyataan ilmiah dengan kadar kebenaran yang berbeda-beda seuai tingkat yang paling rendah:
    1. Asumsi > anggapan/pengandaian
    2. Hypotesa > dugaan yang sementara dianggap benar
    3. Hukum/Dalil > pernyataan yang telah teruji kebenarannya
    4. Teorema > premis dalam sitogismul logika
    5. Teori > penemuan yang secara komprehensif yang berfungsi menerangkan suatu gejalan demi diyakini kebenrannya yaitu lolos dari uji kebenrannya atau verifikasi
    6. Asas/Prinsip > kaedah deskriptif factual yang berfungsi untuk menrangkan gejala-gejala yang merupakan baying-bayang dari realita (didapatkan dari fakta empiris/deduktif).
  3. Aristoteles, menggolongkan perikehidupan dalam 3 tahap:
    1. Anima vegetative: hidup itu menggejalan sebagai proses yang sekedar tumbuh dan berkembang biak saja;
    2. Anima sensiriva: hidup sudah menjelma melaui orientasi kecerdasan;
    3. Anima intellectiva: mempunyai potensi kemampuan menghimpun persepsi-persepsi dalam konsepsi-konsepsi abstrak.
  4. Kemampuan menhimpun persepsi menuju suatu konsepsi adalah kemampuan manusiawi yang khas melekat pada manusia, yang perkembangannya sesuai dengan perkembangan individu masing-masing.
  5. Manusia yang normal > pada suatu saat dalam perkembangannnya akan mempunyai kemampuan untuk menemukan kesamaan-kesamaanumum melalui perangasangan pengamatan (stimulus generalization) > geralisasi.
  6. Dari kemampuan meng-generalisasi itu maka terbuka kemungkinanannya untuk membentuk konsepsi-konsepsi yang mengatasi generalisasi itu tadi.
    1. Misalnya: apabila pada suatu data kita melihat atau mengamatai sepeda, mobil, becak, gerobak, motor, bajaj, kereta api, maka kesemuanya itu masing-masing adalah berupa persepsi-persepsi kita sebagai akibat perangsang yang kita tangkap melui paca intera kita.
    2. Atas dasar persepsi inilah kita menemukan kesamaan-kesamaan, misalnya dengan menyatakan bahwa semuanya itu adalah benda-benda yang beroda (generalisasi).
    3. Sampai tahap ini maka masih nyata keterikatan kita pada hal-hal kongkrit dari benda-benda yang diamati.
    4. Apabila kita himpun semua benda nyata itu, dengan tidak lagi menggambarkan kekongkritan benda-benda iru sendiri-sendiri atau bersama-sama seperti pada taraf generalisasi, maka kita sudah membuat suatu konsepsi yaitu dengan menggunakan istilah “kendaraan”.
    5. Konsepsi tentang kendaraan ini sangat membantu kita kea rah penyederhanaan yang efektif dan efisien. Misalnya, kalau seseorang berkata: “saya perlu kendaraan untu ke kantor”, bagi yang mendengar sudah mengerti tanpa perlu diuraikan berbagai cirri yang meletakat pada kendaraan itu: warna, bentuk, besarnya, rodanya dan lain-lain.
    6. Contoh lain: flora, manusia, norma, aturan dan lain-lain.
    7. Kesemuanya ini, merupakan dasar-dasar dari tuntutan cara berfikir ilmiah.
    8. SISTEM DAN METODE
      1. Setiap upaya yang dinyatakan sebagai upaya ilmiah harus memnuhi dua syarat poko, yaitu: apa sistem dan metode yang menjadi pedomannya?
      2. Sistem > suatu susuan yang berfungsi dan bergerak (adanya sistematika) > hasil pengorganisasian data dan membuka perspektif eksplorasi baru.
      3. Metode > cara atau tujuan: dalam upaya ilmiah, metode menyangkit masalah cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadai sasaran ilmu yang bersangkutan.
      4. Metodologi > ajaran tentang metode-metode.
      5. FAKTA DAN TEORI
1)     Upaya imiah > merupakan suatu proses dimana pikiran manusaia itu beraslih mengikuti suatu disiplin, sistem dan metoda ilmiah, atau
2)     Dari pengamatan terhadap kejadian-kejadian/gejala-gejala kongkrit di alam nyata kepada generalisasi di alam abstrak yang disebut dengan proses induktif  > atau sebaliknya yang disebut deduktif (deduksi).
3)     Di dalam ilmu sosial, obyek pengamatan dan penelirian yang merupakan pangkal dari pengetahuan ilmeiah adalah gejala-gejala masyarakat, khususnya terhadap kejadian-kejadian kongkrit.
4)     Kejadian-kejadian tersebut kemudian harus dideskripsikan lebih dahulu oleh peneliti > yang disebut dengan fakta sosial.
5)     Suatu fakta yang menjadi penyebab dari adanya fakta lain, disebut sebagai factor.
6)     Suatu fakta yang wujudnya adalah sebagai hasil suatu pengukuran disebut data.
7)     Banyak fakta yang dikumpulkan si peneliti, tidak aka nada artinya kalau tidak diatur/dioleh lebih lanjut.
8)     Dalam hal ini sei penetliti menganalisis dan mengklasifikasi fakta-fakta yang dikumpulkan itu menurut sistem dan metode ilmiah tertentu, dan berdasarkan disiplin ilmiah yang ketat.
9)     Kemudaian dicari hubungan/korelasi yang juga berdasarkan disiplin ilmiah yang ketet dari berbagai fakata tadi.
10) Hasil analisasis/konklusi tentang pola-pola korelasi antara fakta-fakta tersebut akan menuju kepada tingkat pengetahuan yang lebih abstrak lagi yaitu konsep dari teori.
11) TEORI
a)     Teori merupakan lata terpenting dari suatu ilmu pengetahuan.
b)     Tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja tetapi tidak aka nada ilmu pengetahuan.
c)     Fungsi teori:
1.     Menyimpulkan geralisasi-generalisasi dari fakta-fakta hasil pengamatan;
2.     Memberikan kerangka orientasi untuk analisis dan klasisfikasi dari fakta-fakta yang dikumpulkan dalam penelitian.
3.     Member ramalan-ramalan terhadap gejala-gejala baru yang akan terjadi.
4.     Mengisi lowongan-lowongan dalam pengetahuan kita tentang gejala-gejala yang telah atau sedang terjadi.
  1. Contoh: teori sebagai suatu generalisasi: orang-orang yang pada masa kanak-kanak dididik secara disiplin dan dinamis, maka pada masa dewasa akan mempunyai mentalitas yang cocok untuk pembangunan.
  2. Untuk mengungkapkan suatu kebenaran yang menjadi salah satu dasar dari ilmu pengetahuan, seorang peneliti harus dapat melakukan kegiatan-kegaiatan yang dapat dikualifikasikan sebagai upaya ilmiah.
  3. Hal ini disebabkan, oleh karena ilmu pengetahuan pada umumnya diperoleh dari sumber-sumber tertentu.
  4. Sumber-sumber tertentu tersebut adalah, antara lain: observasi, generalisasi dan teoritisasi.
  5. Observasi atau pengamatan, menghasilkan gambaran-gambaran atau deskripsi khusus.
  6. Generalisasi menghasilkan deskripsi yang bersifat umum
  7. Teorisasi biasanya menghasilkan teori-teori atau penjelasan-penjelasan mengenai fakta yang terjadi.
  8. Hal-hal inilah yang merupakan sumber prima / utama dari ilmu pengetahuan.
  9. Untuk memperoleh deskripsi khusus dan umum + teori-teori diperlukan cara-cara tertentu atu disebut dengan metode-metode tertentu.
  10. Tanpa metode/metodologi seorang peneliti tidak meungkin mampun untuk menemukan, merumuskan, menganalisasi maupun memcahkan maslah tertentu untuk mengungkapkan kebenaran.
  11. KESIMPULAN
    1. Hasrat untuk tahu atau ingin tahu, yang merupakan suatu hasarat alamiah dari manusia adalah pengkal dari segala ilmu pengetahuan;
    2. Akan tetapi semua gejala alam dan masyarakat yang ditangkap oleh manusia dengan akal dan panca inderanya saja belum menyebabkan timbulnya ilmu pengetahuan;
    3. Oleh karena itu, manusia harus dengan sengaja dan secara sadar menangkap gejala-gejala alam / masyarakat (fakta) dengan cara yang disiplin menurut sistem dan metode tertentu untuk mengatur dan mengolah pengetahuan tentang gejala-gejala alam/masyarakat tadi, yang disebut dengan metodologi ilmiah.
    4. Usaha-usaha dengan sengaja untuk menemukan/mendapatkan gejala-gejala tersebut berdasarkan disiplin metodologi ilmiah dengan tujuan menemukan prinsip-prinsip baru di belakang gejala itu disebut penelitian.
    5. Dalam upaya penelitian itu akal manusia dimulai dengan mengumpulkan fakta-fakta tentang gejala-gejala alam/masyarakat dalam lingkungannnya yang kongkrit.
    6. Melalui proses induktif ia melalukan generalisasi-generalisasi yang abstrak.
    7. Teori, sebagai hasil generalisasi tersebut harus lebih lanjut diterapkan secara deduktif untuk mejadi kerangka bagi penelitian baru terhadap fakta-fakta yang lain untuk membuat ramalan-ramalan tentang fakta-fakta baru atau untuk mengisi kekosongan dalam pengetahuannya.
    8. Penelitian merupakan usaha untuk menemukan, mengembangkan dan melakukan verifikasi terhadap kebenaran suatu peristiwa atau suatu pengetahuan dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Metode-metode ilmiah untuk penelitaian ini dikelompokkan dalam: metodologi penelitian (ajaran mengenai metode-metode yang digunakan dalam proses penelitian).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar